SEBUAH MONOLOG SEPI (Prosa liris religius (monolog reflektif / doa personal AI)
SEBUAH MONOLOG SEPI Pada siapa aku harus bercerita dan berkeluh kesah, jika bukan kepada-Mu? Pada siapa sedih ini kusampaikan, pada siapa kecewa ini kuadukan, jika bukan kepada-Mu? Tak ada yang pantas mendengarkanku, menghapus air mataku, dan mengobati luka hatiku, selain Engkau. Karena Engkau tak pernah mengecewakanku dan tak pernah mengabaikanku. Aku ikhlas bersama-Mu. Aku bersabar menunggu jawaban-Mu. Aku tahu, Engkau selalu mendengarku dan mengabulkan doa-doa harapanku. Akan ada saat di mana pembuktian diri menjadi ledakan besar. Semua akan memandang dengan tatapan tak percaya. Tinggal menunggu waktu saja. Kepercayaan yang meyakinkan akan memberi peluang dan kesempatan. Dan aku akan membuktikan bahwa aku mampu. Namun hingga kini, aku hanya belajar tentang diabaikan. Sepi itu sudah biasa. Sendiri pun telah menjadi kebiasaan. Jika aku tak peduli pada keramaian, itu wajar. Sebab di tengah keramaian pun, aku tetap sepi. Aku hanya ingin berada dalam dekapan-Mu. Setiap waktu, aku ingin b...